Randai di laksanakan dalam bentuk
teater arena atau drama lapangan. Pada masa dahulunya, randai biasanya di
lakukan di lapangan terbuka dan di halaman depan rumah gadang. Berbeda dengan
sekarang, randai bisa di lakukan di dalam suatu ruang atau suatu gedung.
Dalam pertunjukannya, dalam
randai terdapat banyak unsur kesenian. Unsur yang terdapat dalam randai adalah
seni drama, seni suara, seni tari, dan seni musik. Unsur drama dapat terlihat dari peran para
pemain yang melakukan dialog, gerak dan mimik. Unsur seni suara terlihat dalam
dendang antara adegan dengan adegan lainnya. Sambil berdendang, pemain
berlingkar sambil melakukan gerak pencak sebagai salah satu unsur seni tari.
Seni musik terlihat pada saat musik di mainkan sebagai pengiring gerak tari
atau kaba saat di bacakan. Musik pengiring randai biasanya adalah saluang, rabab,
dan talempong.
Sumber cerita di ambil dari kaba.
Kaba tersebut di tampilkan dalam bentuk dialog antara pemain yang di iringi
oleh dendang. Sedangkan tema dari setiap pertunjukan randai sangat beraneka
ragam. Sebab, di minangkabau terdapat banyak jenis kaba dengan berbagai tema.
TARI DALAM RANDAI
Pertunjukan randai di lakukan
oleh banyak orang. Dalam pertunjukannya, para pelaku membentuk lingkaran,
sambil melangkah sedikit demi sedikit. Terdapat banyak gerakan dalam randai
ini, seperti gerakan maju, mundur ke dalam memperkecil lingkaran, lalu keluar
dari lingkaran. Gerakan dasar lainnya, seperti menyepak, menerjang, atau
memukul tangan. Pada bagian tertentu, para pemain juga berjalan sambil
bernyanyi. Selesai bernyanyi lalu kembali melakukan gerakan pencak. begitu
seterusnya, secara berulang.
Tarian dalam randai ini bersumber
dari gerakan tari pencak dan gerakan silat. Gerakan pencak yang di lakukan
merupakan pengembangan dari gerak dasar pencak. gerakan yang dilakukan juga
terkadang seragam dan terkadang berlawanan.
Dalam tarian randai juga terdapat
unsur gerakan silat. Ini terlihat pada perkelahian antara tokoh, sebagai puncak
dari ketegangan. Gerakan pura-pura tersebut di lakukan dengan sebaik-baiknya
agar terlihat asli di mata penontonnya. Pada bagian tertentu, pemain randai
juga menggunakan senjata seperti keris. Hal tersebut agar tampilan gerakan
silat terlihat lebih asli dan menegangkan, sehingga menarik untuk dilihat.
CERITA DALAM RANDAI
Dialog yang disampaikan dalam
randai bersumber dari cerita kaba. Dimana, cerita dibagi menjadi beberapa
bagian. Setiap bagian terbagi atas beberapa adegan. Setiap adegannya
menampilkan dialog antar pelaku. Diantara adegan tersebut di tampilkan dendang
dengan diiringi tarian. Biasanya cerita yang di ambil menggunakan alur maju.
Titik puncak terjadi sebagai
klimaks konflik antara tokoh yang membawa kebenaran dengan tokoh yang menentang
kebenaran. Selanjutnya, adegan setelah itu adalah bagian penyelesaian. Biasanya
satu pertunjukan randai dapat menghabiskan beberapa jam.
Urutan peristiwa yang di
tampilkan dalam randai tersebut di namakan alur cerita. Urutan tersebut tertata
secara teratur mulai dari awal sampai
akhir. Dengan kata lain, cerita tersebut menggunakan alur maju. Sebab dengan
alur yang demikian, penonton dapat lebih mudah dalam memahami jalan cerita dan
menikmati setiap peristiwa yang di tampilkan. Sehingga, penonton juga mampu
memahami makna yang mendalam dalam setiap bagiannya.
DIALOG DALAM RANDAI
Dialog dalam randai di lakukan
dalam bahasa minangkabau. Bahasa yang di gunakan biasanya prosa liris dan dalam
bentuk pantun. Ungkapan-ungkapan menggunakan bahasa berirama. Kadang-kadang
mengandung makna kiasan. Seperti layaknya orang minangkabau, biasanya berkata
dengan kata kias, buka kata langsung. Di antara prosa liris terbseut di selingi
pula dengan pantun.
Misalnya dialog antara seorang
anak dengan ibunya. Ibu memanggil anaknya untuk menghadap. Kemudian terjadi
percakapan sebagai berikut:
Anak :
ampunkan denai mandeh
kanduang, satu salah baribu ampun, den susun jari nan sapuluah, den takuakan
kapalo nan satu, denai datang maadok mandeh. Apokah sabab denai mandeh panggia,
curai papahkan bakeh denai, nak sanang di dalam hati, nak sajuak di dalam
kiro-kiro.
Ibu:
anak kanduang sibiran
tulang, ubek jariah palarai damam, jarek samato badan diri. Makonyo anak denai
panggia, ado kato nan ka den sampaikan, ado rundiangan nan ka den paiyokan.
Sabab kan baa dek baitu, anak batambah gadang juo.
Dialog tersebut, dilakukan dengan
intonasi yang tepat dan mimik yang cocok. Dalam dialog tersebut, para tokoh
juga harus berusaha agar penonton mudah dalam memahaminya.
DENDANG DAN KARAWITAN
Dendang dan nyanyian merupakan
unsur penting dalam randai. Dendang berfungsi sebagai penyampai pesan. Dendang
di sampaikan sambil melingkar. Dendang juga di tampilkan dalam berbagai irama
lagu klasik minangkabau. Untuk tempo dendang yang dimainkan di sesuaikan dengan
gerakan tari yang di lakukan.
Contoh:
Pemain mendendangkan sepotong
kisah tentang kisah seorang gadis berjalan. Gadis itu berjalan di jalan raya
menuju suatu tempat. Dalam di ungkapkan sebagai berikut:
Lah bajalan si gondo riah, bajalan si ganjua lalai, pado pai suruik nan labiah, alu tataruang patah tigo, samuik tapijak indak mati. Di hiliakan labuah nan panjang, labuah panjang liku-baliku, pudiang ameh batimba jalan, pudiang merah salo-manyalo.
Alah sarantang pajalanan, cukuik kaduo rantang panjang, hampia katibo hanyo lai, etan di rumah mamak kanduangnyo, andailah jatuah sakutiko.
Setiap kalimat akhir dari dendang
tersebut diulang bersama-sama oleh para pemainnya. Sedangkan kalimat sebelumnya
hanya di dendangkan oleh satu orang dari pemain.

What do you think?